” Pilih saya,,pilih saya,,
Ya, pilihlah saya...
Sebab saya akan membawa perubahan, kebaikan,
bla..blA..bLA..BLA....”
Bosen. Bohong.
Siapa yang bohong? Mereka?
Bukan. Gue yang bohong kalo gue bilang gue cuma bosen. Karena sebenarnya gue nyoba nahan diri gue untuk bilang kalo gue: ..MALES..BOSEN..sama ’pesta’ ini..
Kalo masalah apakah mereka bohong atau nggak,
gue asumsikan kita sama-sama tau apa jawabannya..
Dari dulu gue nggak pernah suka politik..
Kenapa?
Karena gue ngerasa dunia politik itu kotor..Semuanya bulls**t.. (ups,maaf, gue mengatakan sesuatu yang kasar)
Mereka ngomong tentang sesuatu yang mereka tau sebenarnya susah untuk diwujudin..
Cuma supaya disenangi, demi popularitas, demi dukungan..
Entah.
Mungkin gue cuma trauma..
Perkenalan gue dengan politik terjadi waktu gue masih kecil banget.
Gue ngeliat kakek gue lagi nonton semacam acara ’debat tokoh’ di TV..
Ada seorang politikus dari partai tertentu..
Dan gue denger kakek gue tiba-tiba nyeletuk, tapi dengan suara yang sangat keras..
Dia bilang t** kucing!! (dan gue harus mta maaf lg karena memakai kata2 kasar)
Gue kaget. Kakek gue yang biasanya pendiem, kalem, nggak pernah marah, bahkan klo berantem sama nenek gue selalu ngalah,,
Tiba-tiba aja berubah jadi seorang pemarah..Walau cuma untuk lima detik..
Mungkin sejak itu gue memiliki stigma negatif untuk seorang politikus.
Dan politik.
Lalu semakin gue gede,
Perasaan itu tambah parah...
Waktu gue mulai tau sedikit soal politik kampus,,
Dan gue mulai sedikit denger, baca, liat, orang-orang yang berpolitik..
Hmm..
Gue pernah nonton kampanye seorang capres di TV
Lucu.
Waktu gue denger apa yang dia bilang. Kira-kira begini:
”..... syukur Alhamdulillah bangsa kita bisa bertahan dari krisis global..
Ini semua berkat kerja keras kita semua dan para simpatisan partai –piiip- (sensor)..
Ya, kita harus berterima kasih pada partai –piip-..
(lalu orang-orang berteriak, tepuk tangan, dan ada beberapa orang yang baris di belakang si capres ngangkat tangan mereka dan ngebentuk lambang partai itu. Persis kayak yang gue liat di iklanTV)
What the h*** is going on??
Banyak banget dosen di banyak mata kuliah ngebahas topik krisis global ini.
Mereka ngomongin soal cadangan devisa, depresiasi rupiah, tingkat suku bunga, daya saing produk ekspor, stimulus fiskal, dan gak ada satupun yang bilang bahwa
’Variabel partai –piip- memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian..’
Satu lagi: apa bukti dan indikator yang dipake untuk bilang ’bangsa ini bisa bertahan’?
Setelahnya ada berita di TV soal lawan politiknya yang bilang klo:
’BLT sama sekali gak manusiawi karena cuma ngasih Rp.100.000 sebulan..’
Halo?? Apa gue nggak salah denger? ?
Apa negara kita cukup kaya untuk ngasih satu juta rupiah sebulan?
Lucu,ya, mereka..
Haha..
Dan gak berapa lama gue nonton ’another campaign’, tapi dalam lingkup lebih kecil.
Kampanye para ’bakal calon petinggi di fakultas..’
Gue yakin, sangat yakin, mereka semua orang pinter..
Tapi waktu gue denger jawaban mereka,,
Gue ngerasa kecewa sekaligus kasian..
Hampir semua jawabannya normatif..abstrak banget..Bahkan ada yang sama sekali gak nyambung..Sederhananya : jawaban yang sama sekali gak menjawab..
Tapi sebenarnya gue kasihan sama orang-orang yang sedang berkampanye itu..
Karena gue tau bahwa sama sekali gak mudah untuk berdiri dan berbicara di depan umum, apalagi harus melakukan pembenaran supaya tampak sempurna.
Yah, tapi itu konsekuensi yang harus mereka jalani,kan??
Ini pemilu pertama gue..
Dan gue gak merasa gak bersemangat, tertarik, ataupun kepengen ’milih’..
Padahal dulu gue sempet nungguin kesempatan ini..
Bahkan gue ngerasa temen-temen gue yang dari daerah lebih beruntung..
Mereka punya alasan yang masuk akal dan dapat diterima klo mereka gak milih.
Bilang aja: gak terdaftar sebagai pemilih dan gak sempet ngurus atau gak tau prosedurnya..
Nah, gue??
Yang ada gue di-cap apatis..
Tapi gue nggak tau siapa yang harus gue pilih. Atau gue ikutin saran dosen gue aja?
”Tutup mata waktu masuk ke bilik dan coblos, ehm sorry, contreng seenaknya..”
Apapun hasilnya nanti, biar pasar yang memilih..
Dan gue-pun ngerasa pemilu jadi semacam kewajiban gue, bukan hak?!
Soalnya, kembali lagi ke awal, gue nggak punya bayangan siapa yang mau gue pilih.
Apalagi untuk caleg..
Apakah gue harus milih orang itu karena dia dari partai ini, saudaranya si anu, bilang begini, pernah jadi itu, atau karena cuma nama dia yang gue inget gara-gara gue ngebaca namanya di spanduk ukuran ekstra jumbo tepat sebelum milih?
Dan untuk capres,,
Kebanyakan masih didominasi muka lama..
Orang baru yang direpackage supaya punya nilai jual lebih tinggi..
Kalaupun ada orang baru, pasti punya hubungan sama orang lama..
Gue jadi inget,,
Gue pernah baca soal adanya kecenderungan kembali bangkitnya kekuatan orde yang paling lama memerintah negara ini..
Mungkin karena mereka pengen keuntungan yang dulu pernah mereka dapet..
Atau karena tingginya permintaan masyarakat untuk kembali ke keadaan seperti dulu?
Gue jadi teringat teori ’gua’ yang dibuat plato:
Cerita sederhanannya begini: (maaf klo salah, ya..)
Ada beberapa tawanan yang diikat di dalam gua yang gelap.. Mereka dihadapkan ke bagian belakang gua dengan tangan terikat.. Tapi, ada api unggun tepat di pintu masuk gua sehingga mereka bisa ngeliat bayangan orang yang lalu lalang di depan gua, apa yang ada di luar sana. Lalu, salah satu tahanan dilepas dan disuruh ngeliat ke luar.. Awalnya dia takut karena gak biasa ngeliat api..cahaya..terang..setelah terbiasa dalam kegelapan. Lalu, setelah beberapa lama dia terbiasa.. Dia liat matahari, rumput, air, dan ketemu orang-orang.. Dia senang dan kembali ke gua untuk ngelepasin temen-temennya supaya bisa ngeliat apa yang dia liat. Tapi apa yang dia dapet? Temen-temennya justru marah karena dia ngelepasin mereka. Sebab dia merusak apa yang selama ini dibayangkan oleh teman-temannya..
Ada yang merasa menemukan kemiripan dengan cerita gue sebelumnya?
Mmm..
Apapun pendapat gue..Ini murni pemikiran gue..
Cuma salah satu cara untuk ngungkapin apa yang gue pikir dan gue rasa..
Tapi gue harap kita semua bisa menggunakan hak pilih kita sebaik-baiknya..
Entah bagaimanapun caranya..
Mungkin susah bagi gue untuk ngubah pandangan gue soal politik, kampanye, politikus, dan para ’calon’.. Terlepas dari apa yang mereka bilang atau lakukan, gue punya pemikiran sendiri soal motif mereka. Cuma pake cost-benefit analysis sederhana.
Gue asumsikan mereka adalah orang yang rasional. Orang yang rela mengeluarkan biaya tertentu (cost) karena mengharapkan keuntungan tertentu (benefit) yang lebih besar lagi. Jadi, sebesar apapun uang yang harus mereka habisin buat kampanye, mereka rela melakukannya karena mereka tahu persis bahwa keuntungan yang akan mereka dapet kalo kepilih akan lebih besar lagi. Dan mereka akan nyari keuntungan itu saat mereka berada dalam posisi yang mereka harapkan, bagaimanapun caranya.. Walaupun cuma sebatas mengganti biaya yang udah mereka keluarin.
Manusiawi, bukan?
Gue harap, suatu saat nanti, gue gak perlu lagi meredefinisi politik menjadi sebatas usaha mencari popularitas demi kekuasaan atau keuntungan semata. Dan gue gak perlu lagi ngeliat kampanye sebagai kondisi di mana orang-orang terkena penyakit narsis kronis.
Semoga gue punya cukup waktu....
Cheers,
-via-
Jumat, 03 April 2009
Minggu, 12 Oktober 2008
Pada senin, 13 Oktober 2008
Apa yang marak di koran akhir-akhir ini?
Sesuatu yang dari namanya saja sudah tampak kontroversial.
"Krisis keuangan global"..
Saya bukanlah orang yang tepat apabila disuruh untuk menjelaskannya.
Jujur saja, yang saya tahu hanyalah ini bermula dari Amerika.
Kemudian meluas hingga ke banyak belahan dunia.
Tapi hal yang paling menarik perhatian saya adalah apa yang selanjutnya akan menimpa masyarakat.
Dan masyarakat yang saya maksud adalah 'masyarakat kebanyakan'.
Mereka yang bahkan mungkin tak mengerti arti krisis keuangan, apalagi runtun ceritanya.
Mereka yang tak mau tahu perkara harga saham anjlok atau turun.
Mereka yang cuma peduli jika harga makanan meroket atau jika pendapatan mereka turun.
Saya pernah mendengar jika bapak wakil presiden kita bilang
'krisis ini tidak akan banyak mempengaruhi Indonesia karena krisis ini adalah krisis 'di langit'.
Bukan krisis di pasar-pasar tradisional, bla...bla..'
Atau salah seorang menetri yang bilang krisis ini hanya menimpa orang kaya.
Benarkah?
Mungkin mereka lupa, kalo dari langit pasti ada yang jatuh ke bumi.
Entah sinar matahari, entah rintik hujan, entah salju atau bongkahan es.
Dan sedikit banyak pasti mempengaruhi 'masyarakat kebanyakan.'
KIta ambil contohnya.
Saya bukan pemain saham atau milyuner dengan bisnis berbasis ekspor.
Saya cuma mahasiswa biasa yang kebetulan sangat membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas kuliah.
Kemudian dari media saya tahu bahwa nilai tukar rupiah melemah.
Saya bingung.
Haruskah saya beli sekarang atau menunggu hingga berminggu-minggu lagi?
Sebab tidak ada yang menjamin bahwa minggu depan atau minggu-minggu setelahnya,
saya masih bisa membeli laptop.
MUngkin nanti rupiah semakin melemah.
Atau mungkin nanti uang saya habis digunakan untuk keperluan lainnya.
Dan 'informasi yang tak sempurna' ini membuat saya memutuskan untuk membeli laptop minggu ini.
Sebab saya bukanlah seorang 'risk lover'.
Dan apa yang saya temukan?
Harga yang beratus ribu lebih mahal.
Bahkan untuk sebuah laptop dengan seri yang sama,
dan baru dibeli oleh salah seorang teman saya tepat satu minggu yang lalu,
harganya telah melonjak lebih dari 10%.
Artinya,jika saya membeli laptop seharga 5 juta, maka saya harus membayarnya lebih mahal 500 ribu.
Dan harganya meningkat hanya dalam waktu satu minggu.
Lalu bagaimana jika saya tidak bisa membayar untuk kenaikan harga, karena misalnya uang yang saya miliki 'pas-pasan'?
Hanya ada dua pilihan:
Membeli yang lebih murah
Atau tidak membelinya.
Biaya yang harus saya bayar dari 'krisis keuangan' ini rupanya sangat mahal.
Dan ini baru satu contoh kecil.
Bagaimana dengan harga barang lainnya?
Masyarakat sudah trauma dengan apa yang disebut 'krisis'.
Dan mereka mungkin saja akan melakukan penimbunan besar-besaran, meskipun sebenarnya komoditas makanan untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan mencukupi.
Lalu, terbersit pertanyaan:
Siapa yang mampu menimbun?
Hanya orang-orang yang memiliki uang lebih, bukan?
Lantas, 'masyarakat kebanyakan'yang hanya memiliki penghasilan pas-pasan,
cuma bisa 'berebutan dari sisa-sisa'.
Mungkinkah itu gambaran yang akan ada di koran pada hari-hari mendatang?
Entahlah. Saya hanya bisa berdoa bahwa dugaan saya salah.
Sesuatu yang dari namanya saja sudah tampak kontroversial.
"Krisis keuangan global"..
Saya bukanlah orang yang tepat apabila disuruh untuk menjelaskannya.
Jujur saja, yang saya tahu hanyalah ini bermula dari Amerika.
Kemudian meluas hingga ke banyak belahan dunia.
Tapi hal yang paling menarik perhatian saya adalah apa yang selanjutnya akan menimpa masyarakat.
Dan masyarakat yang saya maksud adalah 'masyarakat kebanyakan'.
Mereka yang bahkan mungkin tak mengerti arti krisis keuangan, apalagi runtun ceritanya.
Mereka yang tak mau tahu perkara harga saham anjlok atau turun.
Mereka yang cuma peduli jika harga makanan meroket atau jika pendapatan mereka turun.
Saya pernah mendengar jika bapak wakil presiden kita bilang
'krisis ini tidak akan banyak mempengaruhi Indonesia karena krisis ini adalah krisis 'di langit'.
Bukan krisis di pasar-pasar tradisional, bla...bla..'
Atau salah seorang menetri yang bilang krisis ini hanya menimpa orang kaya.
Benarkah?
Mungkin mereka lupa, kalo dari langit pasti ada yang jatuh ke bumi.
Entah sinar matahari, entah rintik hujan, entah salju atau bongkahan es.
Dan sedikit banyak pasti mempengaruhi 'masyarakat kebanyakan.'
KIta ambil contohnya.
Saya bukan pemain saham atau milyuner dengan bisnis berbasis ekspor.
Saya cuma mahasiswa biasa yang kebetulan sangat membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas kuliah.
Kemudian dari media saya tahu bahwa nilai tukar rupiah melemah.
Saya bingung.
Haruskah saya beli sekarang atau menunggu hingga berminggu-minggu lagi?
Sebab tidak ada yang menjamin bahwa minggu depan atau minggu-minggu setelahnya,
saya masih bisa membeli laptop.
MUngkin nanti rupiah semakin melemah.
Atau mungkin nanti uang saya habis digunakan untuk keperluan lainnya.
Dan 'informasi yang tak sempurna' ini membuat saya memutuskan untuk membeli laptop minggu ini.
Sebab saya bukanlah seorang 'risk lover'.
Dan apa yang saya temukan?
Harga yang beratus ribu lebih mahal.
Bahkan untuk sebuah laptop dengan seri yang sama,
dan baru dibeli oleh salah seorang teman saya tepat satu minggu yang lalu,
harganya telah melonjak lebih dari 10%.
Artinya,jika saya membeli laptop seharga 5 juta, maka saya harus membayarnya lebih mahal 500 ribu.
Dan harganya meningkat hanya dalam waktu satu minggu.
Lalu bagaimana jika saya tidak bisa membayar untuk kenaikan harga, karena misalnya uang yang saya miliki 'pas-pasan'?
Hanya ada dua pilihan:
Membeli yang lebih murah
Atau tidak membelinya.
Biaya yang harus saya bayar dari 'krisis keuangan' ini rupanya sangat mahal.
Dan ini baru satu contoh kecil.
Bagaimana dengan harga barang lainnya?
Masyarakat sudah trauma dengan apa yang disebut 'krisis'.
Dan mereka mungkin saja akan melakukan penimbunan besar-besaran, meskipun sebenarnya komoditas makanan untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan mencukupi.
Lalu, terbersit pertanyaan:
Siapa yang mampu menimbun?
Hanya orang-orang yang memiliki uang lebih, bukan?
Lantas, 'masyarakat kebanyakan'yang hanya memiliki penghasilan pas-pasan,
cuma bisa 'berebutan dari sisa-sisa'.
Mungkinkah itu gambaran yang akan ada di koran pada hari-hari mendatang?
Entahlah. Saya hanya bisa berdoa bahwa dugaan saya salah.
Jumat, 10 Oktober 2008
Salam kenal semuanya,,
Phiewwww...
Alhamdulillah..
Akhirnya blog ini berhasil dibuat!!
Yippie..
Blog ini mungkin tidak akan banyak berisi komentar kritis atau ilmiah mengenai sesuatu
Mungkin hanya sebuah kontemplasi,,
Mungkin hanya sebuah pemikiran yang tercetus tiba-tiba,,
Mungkin tulisan ketika rasanya kat-kata tak mampu diucapkan,, atau takut dikatakan?
Mungkin tulisan ketika hanya ingin menulis..
Dan mengenai nama blog ini?
Bukan hanya karena kecintaan pada warna hijau ataupun hobi meminum teh hijau..
Tapi ada sesuatu di balik semuanya,,
Mohon kerja samanya, ya..
Cheers,
-Via-
Alhamdulillah..
Akhirnya blog ini berhasil dibuat!!
Yippie..
Blog ini mungkin tidak akan banyak berisi komentar kritis atau ilmiah mengenai sesuatu
Mungkin hanya sebuah kontemplasi,,
Mungkin hanya sebuah pemikiran yang tercetus tiba-tiba,,
Mungkin tulisan ketika rasanya kat-kata tak mampu diucapkan,, atau takut dikatakan?
Mungkin tulisan ketika hanya ingin menulis..
Dan mengenai nama blog ini?
Bukan hanya karena kecintaan pada warna hijau ataupun hobi meminum teh hijau..
Tapi ada sesuatu di balik semuanya,,
Mohon kerja samanya, ya..
Cheers,
-Via-
Langganan:
Postingan (Atom)
